­­­SAMPAN ITU SAMAR MENGHILANG KE UTARA


SAMPAN ITU SAMAR MENGHILANG KE UTARA, Oleh Suradi Yasil

Pemuda bernama Tappappauang, seorang nelayan sekalian pelaut dari utara Teluk Biru, jatuh cinta setengah mati kepada Lissiq Manurung. Kecantikan Lissiq tak tertandingi oleh wanita siapa pun di abad ke-17 di wilayah Teluk Biru dan sekitarnya. Puteri tunggal Kepala Suku di Tanjung Rangas itu adalah titisan bidadari yang bermata biru. Lahir dan besar menjadi gadis luar biasa cantiknya itu berdarah bangsawan puncak. Sudah empat belas pemuda pilihan yang melamarnya. Semuanya tertolak, termasuk Putera Mahkota Kerajaan Barat. Lissiq memiliki enam hal yang menonjol yaitu kecantikannya yang luar biasa, berdarah bangsawan puncak, dapat membaca perasaan dan pikiran orang lain, pewaris tunggal ilmu bela diri yang dahsyat dari Guru Silat I Puang Lakka dari Tammedinging, ahli memunahkan sihir apa pun, dan ahli memainkan alat musik gesoq. Dua yang terakhir diperolehnya dari Pue Amurra dari Baras. Lissiq jatuh cinta kepada Tappappauang yang dengan setia dua kali satu minggu mengantar ikan pilihan dan lain-lain yang selalu digantungnya di pancang kayu bakau di pantainya Lissiq. Tapi Tappa tidak pernah berani menjumpai langsung gadis kecintaannya sehingga Lissiq penasaran dan masygul selama dua puluh empat purnama atau dua tahun. Setelah melalui ujian yang berat, sangat mendebarkan keduanya memasuki gerbang rumah tangga. Sejumlah adat istiadat, perilaku warga masyarakat dalam kehidupan sehari-sehari, dan kebudayaan maritime di sepanjang pantai Sulawesi Barat terdapat dalam novel ini.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *