POPPO Bukan Perempuan Pilihan oleh Yudhistira Sukatanya


Tenri berpaling dari cermin, melengos sedih, masih ragu pada Egi yang bergeming, “Jangan konyol. Sekarang kau tahu siapa aku…? Seperti apa keturunanku?”

Egi berusaha setenang mungkin yang justru membuat Tenri Unga panik.

“Aku sudah tahu, aku tahu semua. Aku hanya ingin menjagamu.”

“Aku sudah terbiasa menjaga diri. Pergilah! Kalau tidak aku teriak!” Tampik Tenri Unga.

“Teriaklah sekuatmu! Aku tetap di sini ! Aku takkan membiarkan dirimu jadi tumbal amarah warga, untuk apa yang tidak kamu lakukan.” janji Egi teguh.

Tenri Unga mengancam, “ Kalau aku teriak, La Timpak akan datang menikammu, membunuhmu, karena melanggar adat.”

Egi bergeming “ Aku siap menghadapi risiko, apapun itu. Hukum adat! Badik ! Kobaran api! Takkan pernah sanggup menciutkan nyaliku.”

Melihat keteguhan Egi membuatnya terkesima, Tenri Unga terharu.

Di kejauhan, suara orang-orang yang berteriak geram dan mengancam kian gencar, “Bakar…..bakar”

Tenri Unga menatap Egi dengan terenyuh, juga sangsi, “Mengapa kau mau mengorbankan dirimu?”

“Karena setulus itulah cinta yang kuserahkan padamu.” jawab Egi lirih, “Aku patut menjaga ketulusan cintaku padamu.”

Air mata Tenri Unga berlinang. Benaknya mempertanyakan, benarkah itu bukti cinta yang tulus. Atau inikah cinta platonis.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *