KETIKA SASTRA BICARA
Oleh Dr. Arifin Zaidin
Dosen Universitas Terbuka
Dinamika sastra adalah kehidupan dalam ruang dan waktu karena ada dimana-mana dan eksistensinya tidak akan pernah dipahami jika tidak dimaknai oleh apresiator dan apresiator itu sendiri tidak terlepas dari seberapa besar kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif yang dimilikinya untuk menjawab informasi keterlibatan kehidupan dalam sastra. Keterlibatan kehidupan sastra penuh simbolisme dan semiotika yang memberikan estetika yang orientasinya untuk pembaca atau penikmat sastra. Suatu estetika atau keindahan memberikan pemahaman sesuatu yang baik, sifat yang baik, keutamaan, kebajikan, bermanfaat, dan berguna. Sebuah cipta sastra puisi tidak akan pernah terlepas dengan kemanfaatan dari penyairnya.
Berbicara tentang puisi berbicara pula tentang sebuah kumpulan puisi yang berjudul “O Ammalek”, karya Goenawan Monoharto. Puisi-puisi yang ditulisnya tidak terlepas dari keindahan dan kemanfaat bagi pembaca dan masyarakat meskipun membangun komunikasi dengan permainan campur kode, dan campur kode yang ditonjolkan adalah bahasa daerah Makassar. Sesuatu yang tidak lazim dari perkembangan sastra Makassar tetapi mempunyai porsi interpretasi campur kode dalam bentuk proses pembelajaran bahasa Indonesia, dan pada rubrik “Ah…Tenane” dalam harian Solopos Solo.
Campur kode pada buku puisi “O Ammalek” dapat dilihat pada Campur Kode Dalam Bentuk dan fungsi kata Kata, seperti pada puisi “MAAF”//taktaktaktaktaktak/ taktaktaktaktaktak/ pamoporangnga/ tak/ taena//. Pada kata taena adalah campur kode bahasa mangkasarak yang apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia beramkna “ tidak” atau “tak. Campur kode ini muncul lebih disebabkan karena latar belakang bahasa ibu dari penulis yang memunculkan kata tersebut. Kata taena memberikan aksentuasi makna yang melatarbelakangi kata “Maaf”, yang menjadi judul puisi dan kata “taena” adalah campur kade yang sengaja dibuat oleh penyairnya.
Pada hal ini dapat dijumpai pada puisi “Pengadilan Anak Manusia”, dan puisi “Marah”.
// tidak tertemukan kesalahan pada orang ini”, kata Pontius/ Sambil membasuh tangannya/ Namum orang-orang di jalan teriak://gentungngi!/gentungngi!/ gentungngi!//. Kemudian puisi “Marah”, dapat dilihat pada larik-larik kreasi Goenawan Monoharto, // semua orang marah/ sanna larrona/ larro/ larro/ larro//. Kata “gentungngi”, dan “larro” adalah campur kode bahasa mangkasarak yang artinya “gantung”, dan “marah”. Pengulangan kata “gentungngi”, dan “larro”, adalah refleksi dinamika bahasa mangkasarak yang masih eksis dan hidup dalam masyarakat. Kata “gentungngi”, dan “larro”, adalah peristiwa campur kode dalam bentuk penyisipan kata bahasa Mangkasarak.
Peristiwa campur kode terus berlanjut dalam puisi-puisi “O Ammalek”, seperti campur kode dalam bentuk frase. Campur kode dalam bentuk frase dapat dilihat pada
“Marah”,// Semua orang marah/ sanna larrona/ mae ri kalenna/ mae ri karaeng allatala //. Puisi “Hoax”,// iaminne sareanna to nijanjia/balle-balle nagaseng nakana//. Tuturan tulisan mengalami campur kode dalam bentuk frase dalam bahasa mangkasak “ sanna larrona, mae ri kalenna, mae ri karaeng allatala” yang artinya sangat marah, pada dirinya, pada Allah. iaminne sareanna to nijanjia, balle-balle nagaseng nakana, yang artinya ini adalah jawaban sebuah janji, semua kebohongan. . Campur kode bentuk frase dapat juga dilihat dalam puisi AMMA#2, seperti pada larik-larik:// panganjai eja/ baju sosok lekleng/ baju sosok lekleng/ sikko ayak sikola/ jai doe kamummuna//.
Seterusnya, dalam puisi-puisi “O Ammalek”, karya Goenawan Monoharti, seorang jurnalis, penyair, dan pemerhati sastra dijumpai pula Campur Kode dalam Bentuk Klausa. Campur Kode dalam Bentuk Klausa dapat dilihat dalam puisi “AMMA#2”, seperti larik-larik puisi// kutayangki ri lalang soknaku/ oammalek kukioki arenta/ nona bodo nona li battu bantaeng/ lipa nona curak labba/ simbolengna kebo ukna//. Pada bentuk klausa ini semakin tampak maknanya seorang lelaki menunggu kekasihnya dalam mimpi, kecintaan seorang anak kepada ibunya, dan pujian kepada seorang gadis tentang konde yang dipakainya. Selain dalam bentuk klausa, dijumpai pula dalam bentuk idiom, misalnya Campur kode bentuk idiom dalam puisi “Menanti Hujan Turun Sebelum Pidato Dimulai”, yakni // balla boe// rumah tua//. Penyisipan idiom campur kode dalam puisi tidak terlepas dengan penciptaan keindahan dengan permainan imaji penulisnya.
Bentuk campur kode pada buku puisi O Ammalek, yaitu campur kode dari bahasa Indonesia ke bahasa mangkasarak, campur kode berbentuk kata; campur kode berbentuk frasa, campur kode berwujud kata ulang (reduplikasi), serta campur kode bentuk klausa. Fungsi campur kode pada buku puisi “O Ammalek”, yaitu campur kode sebagai penyisipan kata, frase, dan klausa, penghormatan, menegaskan makna, menjelaskan, menunjukkan identitas diri, pengaruh pembicaraan, menyesuaikan topik/materi pembicaraan yang terjadi; dan untuk menunjukkan perasaan rasa atau situasi emosional. Fungsi-fungsi campur kode dimaksudkan agar pembaca mengetahui dan memahami apa maksud yang disampaikan oleh penulis. Fungsi-fungsi ini pula merupakan bentuk representasi komunikasi antara penulis dan pembaca, sehingga pemakaian campur kode membantu penyampaian ide, maksud dan tujuan penulis. Pemakaian bentuk campur kode berdasarkan fungsi yang sudah dianalisis menjadikan proses komunikasi antara pembaca dan penulis menciptakan komunikasi yang lebih komunikatif dalam menangkap ide atau gagasan penulis. Ketika sastra bicara adalah representasi kemampuan penyairnya membangun imaji dan realitas bahwa sastra tercipta dari realitas kehidupan Goenawan Monoharto dalam puisi “O Ammalek”.
