
Buku puisi yang diberi judul buku puisi Menawar Mawar dari Jendela Kamar, buku terakhir dari trilogi buku puisi, Percakapan Tengah Malam Sangat Sunyi dan Energi Air Mata.
Larik aslinya berbunyi, jendela kamar menawar mawar, yang kemudian diutak-atik secara kreatif menjadi Menawar Mawar dari Jendela Kamar. Pada larik asli, sebagaimana terdapat dalam puisi di atas, terasa rasa kepenyairannya. Sedangkan, setelah dipermak menjadi judul buku, terasa puitisnya. Keduanya sah saja, karena merupakan otoritas penulis, yang empunya buku. Yang tidak berubah adalah objeknya, yakni mawar, bunga dengan keindahan yang banyak sekali menjadi sumber inspirasi. Bukan mawar kalau tidak berduri, ungkapan yang terkesan sudah seharusnya, tapi sejatinya sarat nilai filosofis.