Buku Refleksi, Dinamika, Reformasi, dan Transformasi BEM-U mengajak pembaca menengok kembali romantisme kemahasiswaan dari kampus Baraya ke Tamalanrea yang tak selalu mulus—dari ruang diskusi sederhana yang kadang diintip “intel” di Sanggar A.P. Pettarani hingga riuh aksi di lapangan catur dan lapangan olahraga-PKM Tamalanrea, Eksistensi BEM sebagai laboratorium kepemimpinan: tempat idealisme diasah, negosiasi dilatih, dan keberanian ditempa; namun di sela kisah itu terselip kegelisahan yang sulit diabaikan—ketika BEM-U belum juga terbentuk, ruang suara mahasiswa terasa hampa, seolah kampus kehilangan sesuatu— denyut kritisnya.
Lebih dari sekadar memoar 50 tahun dunia kemahasiswaan, buku ini menangkap kecemasan kolektif atas vakumnya representasi mahasiswa yang diam-diam bisa mengikis tradisi khas berpikir kritis serta keberanian bersuara dari belahan timur Indonesia terkadang terabaikan, sambil mengajak pembaca merenung di tengah perubahan zaman: apakah ini sekadar jeda, atau tanda ­meredupnya kesadaran berorganisasi—disampaikan dengan gaya setengah kelakar yang tetap menggugah, seperti secangkir kopi yang sudah dingin tapi rasanya masih tertinggal lama di kepala.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *